Filosofi dibalik game Pipa Bocor (versi ilustratif)

Kita semua pasti pernah berpikir salah satu dari pertanyaan dibawah atau malah ketiga-tiganya:

“Apa bener ini bidangku ya?”

“Apa ya talentaku?”

“Gimana ya ngembangin talentaku?”

PS: Sebelum pembacaan lebih lanjut, semoga kalian tahu game pipa bocor yg biasa dimainkan di bootcamp atau OSPEK.

Aku mengibaratkan:

  1. Kapasitas sebagai pipa (yang sebenarnya bocor).
  2. Air sebagai pengalaman.
  3. Gayung sebagai waktu.

Banyak temen-temenku yang berusaha memaksimalkan kapasitas mereka dengan menambah jumlah pipa yang akan mereka isi. Sayangnya terkadang kita lupa bahwa sebenarnya pipa yang kita tempatkan didepan kita memiliki banyak lubang yang tersembunyi (namanya aja game pipa bocor :P). Kita baru mengetahui lubang-lubang yang ada pada pipa pada saat kita mengisi pipa-pipa kita.

Untuk lebih memudahkan, yang dimaksud pipa disini misalnya kapasitas sebagai:

  • Seorang pemimpin organisasi
  • Seorang pemain musik
  • Seorang guru/dosen
  • Seorang mahasiswa/i yang bertanggung jawab

Nah kapasitas yang sebenarnya kita miliki adalah seberapa banyak air yang dapat kita tampung dalam pipa bocor yang kita miliki. Berhubung kapasitas ini adalah kapasitas diri kita sendiri, maka permainan pipa bocor ini kita lakukan sendirian. Coba bayangkan: apabila permainan ini kita lakukan bersama-sama; akan ada teman-teman kita yang membantu menutup lubang di pipa kita, disaat yang bersamaan teman-teman kita tersebut juga butuh untuk menutup lubang yang ada pada pipa bocor mereka. Tidak mungkin kan?? Apalagi pipa bocor yang dimasukin temen-temen dalam hidup mereka bisa lebih dari 1 jumlahnya. Maka dari itu, kita harus bisa mengatasinya sendirian.

Tapi bagaimana cara mengatasinya sendirian? Solusinya adalah dengan menambal lubang-lubang itu sendiri menggunakan: penambal. Penambal  yang dimaksud adalah Meluangkan waktu lebih untuk mengkaji ulang & Bekerja keras untuk memahami bagaimana cara menambal lubang-lubang itu.

Mungkin kita bisa meminta bantuan orang lain untuk mengambilkan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk menambal (dalam dunia nyata, seperti: berkonsultasi/bertanya pada yang lebih tahu).

Tetapi ingat untuk mengembangkan kapasitas diri kita, kita tidak dapat bergantung pada orang lainMasa kita terus-terusan minta tolong temen kita untuk mengambilkan peralatan-peralatan yang kita butuhkan? Tidak bisa dong! Tanggung jawab itu terletak pada diri kita. Lagipula kenyataan hidup memang tidaklah demikian, bukan?

Dalam perjalanan hidup kita untuk menjadi ahli dalam suatu bidang, pasti kita sering melakukan kesalahan, maka dari itu aku pilih pipa yang sebenarnya bocor untuk menjadi perumpamaan.

Tuhan itu bijaksana, Dia memberi 1 jenis gayung untuk kita semua yaitu waktu yang sama rata bagi setiap kita. Tinggal seberapa banyak kita memenuhi gayung tersebut dengan air (pengalaman) dan memindahkannya kedalam pipa-pipa kita.

Sejak semula Ia memberikan prototype pipa yang berbeda-beda bagi setiap kita, agar terjadi keseimbangan dan tercipta ke”saling”an. Ada orang yang diberi Tuhan prototype pipa komputer yang tinggi, sehingga ketika dia menempatkan pipa itu didepannya dan mengembangkannya, setiap lubang yang ia temui dapat ditutup relatif lebih cepat. Dan pada saat dia sungguh-sungguh mengisi pipa itu, kelak ia dapat menjadi seorang yang ahli di bidang komputer.

 

Poin-poinnya:

  • Jadi sebenarnya ketika kita menemukan lubang dalam perjalanan mengisi pipa kita yang bocor, seharusnya kita bersukacita karena itu pertanda bahwa 1 checkpoint telah kita lalui.
  • Mari belajar untuk menjadi seimbang antara eksplorasi talenta-talenta kita yang lain (Breadth First Search) dengan pengembangan yang mendalam (Deep First Search) atas talenta-talenta kita.
  • Kita harus menjadi ahli dalam bidang kita masing-masing dengan cara pandai menyeleksi pipa yang akan kita penuhi.Mana yang ingin kita penuhi terlebih dahulu? (prioritas) Bagaimana cara kita memenuhinya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *