Business Success Factor, Knowledge or Experience?

images

 

Beberapa waktu yang lalu, kita sempat dihebohkan dengan “perdebatan” antara Bob Sadino dan Mario Teguh. Bob Sadino mengatakan, “Mau kaya? berhentilah sekolah atau berhentilah kuliah sekarang juga, and start action, karena ilmu di lapangan lebih penting daripada ilmu di sekolahan atau kuliahan.” Sementara di sisi lain, Mario Teguh mengatakan pendapat sebaliknya, “Berhati-hatilah dengan orang yang membanggakan keberhasilannya walaupun dia berpendidikan rendah. Itu tidak boleh dijadikan dalil. Pendidikan itu penting. Buktinya, dengan pendidikan yang sedikit saja, dia bisa berhasil, apalagi jika dia terdidik dengan lebih baik. Bukankah kita dianjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina? Dengan ilmu, segala sesuatu bisa mencapai kualitas tertingginya.”

Banyak orang yang sepaham dengan Mario Teguh denganmengatakan bahwa pengetahuan mengenai berbagai sisi manajemen maupun akuntansi merupakan hal yang penting dalam menjadi seorang pengusaha. Namun tidak sedikit pula yang mengamini pernyataan Bob Sadino yang mengatakan teori sebenarnya tidaklah terlalu penting, justru yang utama adalah berani untuk praktik sehingga dari sanalah intuisi dan kelihaian berbisnis menjadi tumbuh.

Kedua sudut pandang ini tersebar di berbagai kalangan dan memiliki pengikutnya sendiri-sendiri. Beberapa waktu yang lalu penulis sempat bertemu dengan seorang mahasiswi dari suatu kampus ternama di Surabaya. Dia begitu termotivasi setelah mendengar seminar kewirausahaan yang disampaikan salah seorang motivator. Sang motivator mengatakan bahwa tidak perlu sekolah tinggi-tinggi yang penting adalah keberanian untuk berbisnis. Tanpa pikir panjang si mahasiswi memutuskan berhenti kuliah dan mengikuti pelatihan entrepreneurship yang diselenggarakan oleh motivator itu. Di sisi lain, ada pula rekan penulis yang memutuskan kuliah hingga jenjang S3 sebelum memulai bisnis. Dia berpendapat bahwa harus menggali ilmu setinggi-tingginya sebelum terjun ke dunia nyata.

Ketika penulis bertemu dengan berbagai macam pebisnis. Memang kesuksesan seseorang dalam membangun bisnis tidak diukur berdasarkan jenjang pendidikannya. Terbukti pengusaha besar seperti Bill Gates maupun Steve Jobs tidak tamat kuliah. Pernah pula penulis bertemu dengan seorang pebisnis dengan pendapatan 10 Milliar per bulan yang bahkan tidak pernah sempat mengenyam pendidikan tinggi. Hampir semua pebisnis dengan tipe ini selalu mengatakan hal yang sama. Tidak perlu kuliah, yang penting berani mencoba. Kalau melihat keberhasilan bisnis yang mereka jalankan seringkali kita mau-tidak mau menyetujui pernyataan mereka. Tapi seringkali luput dari pengamatan adalah berapa banyak orang dengan pendidikan rendah yang bisa sukses dalam berbisnis?

Mari kita lihat perbandingan jumlah seluruh masyarakat yang berpendidikan rendah dengan mereka yang bisa sukses berbisnis. Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta menyatakan bahwa jumlah pengusaha di Indonesia sampai dengan pertengahan tahun 2012 hanya 400 ribu. Anggaplah sebagian besar dari pengusaha ini adalah orang-orang yang hanya berhenti di jenjang SMA. Nyatanya dari 7,17 juta  pengangur, sebagian besar adalah lulusan SMA. Fakta ini diungkap oleh Emma Allen, seorang ekonom dari International Labour Organization. Artinya dari 3,5 juta lulusan SMA hanya sangat sedikit yang bisa menjadi pengusaha. Sebuah kondisi yang sebenarnya memprihatinkan.

Dari fakta ini, pendidikan mengenai bisnis yang benar sangat diperlukan. Pendidikan mengenai bisnis diperlukan agar pengusaha kecil memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di tengah persaingan usaha yang begitu keras. Pendidikan bisnis bukan hanya motivasi kosong yang mengajarkan untuk selalu berpikir positif. Pendidikan bisnis yang benar seharusnya mengajarkan ilmu ekonomi, ilmu manajemen, dan ilmu akuntansi untuk diterapkan dalam kondisi di lapangan, bukan hanya diajarkan seperti teori di atas awan. Ketiga ilmu itu diciptakan untuk menolong pebisnis mengembangkan usahanya. Dengan knowledge yang baik, pengusaha kecil dan pemula dapat mengelola bisnis dengan lancar, mengambil keputusan dengan tepat, hingga melebarkan sayap usahanya.

Biasanya bagi pengusaha-pengusaha yang beranjak besar, pengetahuan bisnis baru terasa manfaatnya. Ketika usaha masih kecil, si pengusaha masih dapat mengendalikan sendiri seluruh fungsi-fungsi manajemen, akan tetapi ketika usaha mulai berkembang barulah pengusaha merasa kesulitan. Penulis pernah menemui seorang pengusaha yang memiliki toko hingga belasan cabang. Sekilas usahanya terlihat sehat. Namun alangkah terkejutnya penulis ketika beberapa waktu lalu sang pengusaha bercerita kalau tokonya kini hanya tinggal 3 saja. Kemana larinya belasan toko yang lain? Rupanya, sang pengusaha merasa kesulitan untuk mengontrol toko-tokonya yang lain sehingga baik inventory maupun uangnya raib disikat oleh pegawainya. Pernah pula penulis menemui pengusaha lain yang memiliki pabrik. Rupanya terjadi fraud di dalam pabrik itu, yang bila ditotal mencapai angka milyaran rupiah. Fraud itu selama ini tidak terdeteksi karena laba yang diperoleh sangat besar. Bayangkan dengan uang milyaran rupiah itu si pengusaha bisa membuka pabrik baru.

Lalu apakah itu berarti sebelum menjadi pengusaha harus bergelar Doctor terlebih dahulu? Tentu saja tidak. Harus diakui bisnis adalah ilmu sekaligus seni. Ada hal-hal yang memang akan tumbuh melalui pengalaman. Seperti halnya berperang, kita tidak bisa menang melawan musuh hanya dengan belajar cara menggunakan senjata. Ada pengalaman, keberanian, kelihaian, feeling yang kuat, yang mana terasah dari jam terbang yang tinggi. Demikian pula halnya dengan bisnis, pengalaman akan menolong pebisnis untuk lebih cepat mengambil keputusan, membaca peluang yang ada, maupun lebih hati-hati menghadapi orang lain. Akan tetapi harus diakui ada banyak hal-hal yang mungkin tidak disediakan oleh pengalaman seperti menyusun sistem pengendalian manajemen, pembentukan sistem informasi, hingga sistem keuangannya. Jadi kalau boleh kita tarik kesimpulan, pengalaman dan pendidikan dalam berbisnis adalah dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Keduanya saling melengkapi untuk mencapai hasil yang maksimal dalam bisnis. Boleh jadi pernyataan Albert Einstein kita pinjam ke dalam konteks pembicaraan kita. “Business experience without business knowledge is blind and business knowledge without business experience is lame.”

 

 

Sumber:

http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/402649-ilo–pengangguran-muda-banyak-dari-lulusan-sma

http://www.tempo.co/read/news/2012/07/09/173415776/Indonesia-Kekurangan-Pengusaha

http://www.jpnn.com/read/2013/08/28/188116/Jumlah-Pengangguran-Masih-7,17-Juta-Jiwa-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *